Gimana rasanya kalau tiba-tiba lo jatuh cinta pada orang yang salah? Orang yang menurut lo ga akan mungkin membalas perasaan lo. Pasti sakit banget kan? Pasti lo lebih milih mendem perasaan lo ke orang itu kan? Itu yang lagi gue rasain sekarang. Gue jatuh cinta ama sahabat gue sendiri. Bodoh banget kan? 3 tahun gue sahabatan ama dia, dan sekarang gue mau ngerusak semuanya gara-gara perasaan gue ini? Ga boleh. Itu ga boleh sampai terjadi. Gue ga mau kehilangan Wise, gue ga mau. Mungkin emang lebih baik gue mendem perasaan gue daripada dia tau terus ngejauh dari gue dan persahabatan gue ama dia ancur. Gue ga boleh ngerusak semuanya. Ayo Nad, kontrol perasaan lo! Ya, gue pasti bisa mengontrol ini semua. Pasti bisa!
Aku menyelesaikan menutup diaryku. Menghela nafas panjang lalu menutup diaryku itu. Di otakku, di hatiku sekarang ada Wise. Wise, Wise dan Wise. Ini terdengar berlebihan tapi memang itu kenyataannya. Aku tidak bisa berhenti memikirkan sahabatku itu semenjak aku merasa, aku punya perasaan yang lebih dari sahabat kepadanya. Kulirik ponselku. Sepi. Tumben dia tidak mengirimku sms malam ini. Aku menghela nafas lagi. Kali ini lebih panjang dan dalam dari sebelumnya. Lalu tiba-tiba ponselku berdering. Prima.
“Halo?”
“Nad, lo lagi dimana?”tanyanya.
“Di rumah, kenapa?”
“Jalan yuk. Gue lagi bosen banget nih.”ajaknya.
“Kemana?”tanyaku.
“Kemana aja.”
“Oke, mending kita ke Starbucks aja. Gue butuh ngopi nih.”saranku.
“Oke, lo yang bawa mobil atau gue yang bawa?”tanya Prima.
“Gue aja yang bawa mobil, gue jemput di rumah lo ya.”jawabku.
“Oke, bye.”ujar Prima mengakhiri pembicaraan kami di telefon. Aku langsung bersiap dan segera turun ke bawah. Rumahku sepi. Adik-adikku sudah pada tidur. Mama dan papa ga tau kemana. Aku langsung mengambil kunci mobilku lalu pergi menuju rumah Prima. Jalanan sangat ramai malam ini. Tentu saja, malam ini adalah malam minggu. Jadi sudah pasti penuh dan ramai. Setelah menjemput Prima di rumahnya, kami menuju ke Starbucks.Sesampainya di Starbucks, aku pergi keluar sebentar. Mau membeli rokok untuk menemaniku minum kopi. Setelah selesai membeli sekotak rokok BL
CK menthol, rokok yang biasa aku pakai. Kami pun duduk di Starbucks.
“Mau ga?”tawarku ke Prima.
“No, thanks. I try to stop smoking.”jawabnya. aku melotot ga percaya.
“Demi apa? Hahaha. Ga percaya ah. Liat aja, gue abis 3 batang juga lo kegoda.”godaku sambil tertawa. Prima hanya cemberut. Aku tak peduli. Kuambilsatu puntung rokok dari kotaknya lalu kuselipkan di mulutku. Kurogoh sakuku, mencari korek. Lalu kunyalakan ujung rokok yang lain. kuhisap dalam-dalam lalu kutahan hingga masuk ke paru-paruku. Lalu baru kuhembuskan asap rokok itu. Lalu ponselku berdering. Wisega.
“Prim, tolong angkat telfonnya dong. Gue lagi males ngomong ama dia.”ujarku. prima mengerutkan keningnya, heran. Tapi akhirnya dia menuruti perintahku lalu mengangkatnya.
“Halo?”
“Iya, lagi di Starbucks bareng si Nadia.”
“Oh gitu, ya udah ke sini aja.”
“Oke, bye.”ujar Prima yang setelah itu memberikan ponselku kepadaku.
“Dia bilang apa?”tanyaku.
“Katanya dia mau ke sini.”jawab Prima enteng. Aku shock, panik. Kutempeleng kepala Prima. Dia mengaduh kesakitan dan kaget juga.
“Apa sih?!”omelnya.
“Lo bego banget sih ih. Kenapa dia lo ijinin dateng? Udah tau gue lagi ga mau ketemu dia.”aku balas mengomelinya lebih banyak.
“Gue kan ga tau.”ujarnya sambil manyun. Tanpa banyak kata aku berdiri lalu melangkahkan kaki keluar Starbucks tanpa memerhatikan sekitarku. Baru saja aku membuka pintu Starbucks seseorang mengagetkanku.
“Mau kemana?”tanya orang itu. DEG! Aku hafal sekali suara itu. Itu……
“Wise?”
“Kenapa? Lo kaget gua ada di sini sekarang?”tanyanya. aku terdiam lalu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Wise. Tangannya menahanku lalu menarikku ke arah parkiran basement. Sesampainya di sana, aku di tarik ke dekat tembok hingga tubuhku menempel dengan tembok. Dia meletakkan tangannya di samping kepalaku lalu mendekatkan wajahnya dengan wajahku.
“Kenapa lo jadi ngindar gini dari gue?”tanyanya. aku terdiam dan terus menundukkan kepala. Wise menghela nafas panjang. Nafasnya sangat terasa olehku. Tentu saja, karena jarak antar wajah kami hanya radius 20 cm. spontan hatiku berdeup ga karuan. Aku harus menghentikan ini dan harus menghindar, pikirku.
“Udah lah Wise, jangan ganggu gua dulu untuk kali ini aja.”ujarku tegas lalu diikuti langkah kakiku menuju mobilku. Prima sudah menunggu di sana.
“Nad?”
“Udah jangan banyak tanya, masuk cepet! Atau lo mau gua tinggal?”ancamku. prima akhirnya menurut dan langsung masuk ke dalam mobil. Kunyalakan mesin mobilku dan pergi meninggalkan Wise. Kutancapkan gas mobilku sekencang mungkin saat melewati jalanan yang sepi. Prima hanya teriak-teriak ketakutan.
“Nadiaaaaaaaaaaaa! LO GILA YA? LO MAU KITA MATI HAH?”bentak Prima saat aku secara mendadak mengerem mobilku lalu menekan klakson sekencang-kencangnya.
“Lo ga suka? Ya udah, mending turun!”aku balas membentaknya. Mataku mulai berkaca-kaca.
“Oke, GUE TURUN!”ujar Prima sambil membuka pintu mobilku lalu menutupnya keras-keras. Aku tertunduk di atas setirku. Aku menangis sejadinya. Prima yang awalnya ingin meninggalkanku langsung berbalik dan kembali menghampiriku. Dia masuk lagi ke dalam mobilku.
“Nad, lo ga apa-apa?”tanyanya khawatir.
“Gue ga apa-apa. Udaaaaaaaaah lo sanaaa jangan ganggu gue!”ujarku sembari terus terisak. Prima menghela nafas panjang lalu meninggalkanku. Bodoh. Aku bodoh udah jatuh cinta ama Wise. Bodooooooh, umpatku dalam hati.
* * *
Prima berjalan menjauhi mobilku dengan perasaan campur aduk. Khawatir, takut dan kasihan. Prima mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia menelefon sesorang. Wisega.
“Halo?”
“Lo dimana, Se?”tanya Prima.
“Please, lo tolongin Nadia. Dia ada di Jalan Gede Raya. Dia ada di mobil, nangis sendirian. Gue takut dia kenapa-kenapa. Gue samperin dia malah nyuruh gue pergi. Please, Se.”jelas Prima. Tak terdengar satu suarapun dari seberang sana. Hanya nada yang menandai bahwa telefon Prima diputus. Prima menghela nafas panjang dan hanya bisa berharap Nadia tidak apa-apa.
* * *
Wisega melepaskan jaket kulitnya dari tubuhnya lalu menghempaskan tubuhnya di kasur. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Prima. Dia mendengar Prima sangat panik di seberang sana. Lalu dia mengatakan sesuatu tentang Nadia. Suatu rasa yang aneh kembali menjalar menyelimuti hati Wisega. Tanpa pikir panjang, dia memutuskan pembicaraan di telefon bersama Prima lalu kembali meraih jaketnya dan pergi. Pergi menuju Jalan Gede Raya. Tempat di mana Nadia berada.
* * *
Aku menghapus airmataku. Menguatkan diriku untuk tidak menangis lagi. Kucoba mencengkram erat kemudi mobilku. Lemas. Tak ada tenaga. Tiba-tiba jendela mobilku diketuk seseorang. Aku membuka jendela mobilku lalu menoleh. Wisega.
“Ngapain lo ke sini? Lo tau darimana gue ada disini?”tanyaku jutek.
“Ga penting gua tau dari mana. Yang penting gua sekarang ada saat lo lagi kayak gini. Saat lo butuh gua”kata Wisega lembut. Sekejap aku merasakan suatu ketenangan dan rasa senang. Tapi hati kecilku kembali melarangku untuk merasakan yang lebih.
“Kata siapa gue butuh lo? Gue ga butuuuuuuuh! NGERTI?!”bentakku. Lagi-lagi Wisega hanya terdiam. Selalu seperti ini.
“Nad, please jangan ngejauh dari gua gini. Gua ga sanggup.”aku Wisega dengan tampang pasrah.
“Kenapa lo ga sanggup? Gue juga ga ada artinya kok buat lo.”cecarku. Wisega membuka pintu mobilku lalu menarikku keluar. “Mau apa lo?”tantangku. Dia menghadapkan wajahku di depan wajahnya. Aku menunduk.
“Apa selama ini persahabatan kita ga ada artinya buat lo ampe lo mikir gitu?”tanya Wisega. Aku terdiam sembari terus menunduk. “Jangan nunduk! Jawab pertanyaan gue!”bentak Wisega. Aku menengadahkan kepalaku menatap kedua mata Wisega. Damai, tentram dan selalu bisa membuatku merasa aman.
“Gue…”
“Gue apa? Lo ga nganggep 3 tahun persahabatan kita ini, iya? GA NYANGKA!”bentak Wisega. Ada raut kecewa yang tergambar di wajahnya. Dia berbalik dan mulai melangkahkan kaki meninggalkanku. Aku terdiam. Gimana kalau dia ninggalin gue? Gue juga ga bisa kehilangan dia, kataku dalam hati.
“Gue gini karena gue suka ama sahabat gue yang udah 3 tahun jadi sahabat gue!”teriakku. Wisega menghentikan langkah kakinya.
“Lo pasti kecewa. Lo pasti marah. Lo pasti ngejauh. Ini yang gue takutin! Makanya gue berubah!”jelasku lagi. Wisega kembali meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke arahku. Motornya meninggalkanku sendiri dalam jalan yang sepi. Aku menangis. Lagi. Walaupun sudah lega karena sudah mengatakan itu semua, aku menangis karena hal lain kali ini. Karena aku takut kehilangan sahabatku.
* * *
Ini sudah hari ke-10 setelah pengakuan itu. Wisega tidak menghubungiku, menemuiku dan mengajakku bicara. Aku tak tau lagi harus bagaimana. Semua usahaku untuk meminta maaf padanya seakan-akan menjadi sia-sia. Entahlah. Mungkin dia sangat kecewa dan tidak mau lagi mengenalku. Aku menatap layar ponselku. Kosong. Tidak ada sms. Akhirnya kuputuskan untuk mengirimnya sms sekali lagi.
To: Wise :)
Sorry if I've made a big mistake. Sorry if I damaged our friendship. I never want to have this feeling. Difficult. I know that's not true. Because I make our friendship to be broken. I do not know what I've done to get your forgiveness. I just want to see your old. Not like this. Please, forgive me Wisega. I can not get through my day without my best friend: '(
Send? Yes.
Aku menghela nafas panjang berharap dia membalas smsku tadi. Tidak lama kemudian, ponselku berbunyi. Wisega. Dengan segera, aku langsung membuka sms itu.
From: Wise :)
No problem, I only need more time to calm down. I just was shocked when I hear that you love me. Sorry ya gue udah jutek :)
Aku menghela nafas lega. Akhirnya dia memaafkanku. Aku memegang erat gelang yang melingkar di pergelangan tanganku. Gelang tanda persahabatanku dengan Wisega. Tak pernah bisa terfikir olehku bagaimana jadinya bila aku kehilangan sahabatku yang satu itu.
To: Wise :)
Ga ada yg salah kooook. Thanks for your forgiveness :) I know and I believe that friendship is more important than individual problem. Gue seneng lo maafin gue, it means I won’t lost my bestest friend. THANKYOOOOOOU :D
Send? Yes.
Seulas senyum mengembang dari bibirku. Rasa lega dan senang menyelimuti hati dan pikiranku. Ya, sahabat memang lebih penting dari segalanya. Aku ga boleh egois memikirkan perasaanku.
From: Wise :)
Yes, of course. FRIENDSHIP IS THE MOST IMPORTANT, right? Hahaha you’re welcome :) so, can you come and join with me @Starbucks now? I’m waiting you my bestest friend :D
Senyumku tambah melebar. Akhirnya sahabatku kembali. Dan dia sekarang menungguku di tempat pertama kali kami bertemu. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju mobilku dan menancapkan gas menuju tampat sahabat terbaikku menungguku.
* * *
2 comments:
naaad.. gua udah bacaaaa yeaaah.. itu from wise to wise nya beneran?
no comment -________- yg jelas itu kejadiannya dari fakta haha
Posting Komentar