Finally, I can write a real short story haha. Enjoy, people! It's linked with writingsession.
___________________________________________________________________________________________________
Cantik itu tidak hanya seputar outer beauty. Tapi juga inner beauty. Tanpa inner, kecantikan outer akan percuma. Setidaknya itu yang aku baca di sebuah rubrik majalah fashion pagi ini. Benar juga sih, tapi kan manusia juga tidak perlu munafik. Kecantikan dari luar adalah kesan pertama yang dilihat oleh orang. Sedangkan kecantikan dari dalam hanya bisa dilihat setelah mengenal lebih dekat. Sedangkan aku bukanlah wanita cantik. Aku hanya seorang mahasiswi jurusan Tehnik Industri Kimia di salah satu Institut terkenal di Indonesia. Tidak seperti – wanita yang lewat di depanku ini.
“Sonia!”panggilku kepada wanita itu. Tapi wanita itu tak menghentikan langkahnya dan terus berjalan angkuh. Itu kan yang dimaksud inner beauty? Tapi kenapa masih banyak lelaki yang menyukainya? Aku tak habis pikir.
“Meyra! Bengong aja lu!”Ferry mengagetkanku dari belakang.
“Apa sih lo. Siapa juga yang bengong.”elakku sambil mulai melangkahkan kakiku lagi berjalan di lorong kampus. Ferry mengikutiku dari belakang.
“Eh, Sonia makin cantik aja ya tiap hari?”tanya Ferry iseng. Aku mendengus kesal. Sonia lagi yang dibicarakan oleh para kaum lelaki.
“Kenapa Sonia terus sih? Karena dia cantik? Tapi kan dia sifatnya jelek, Fer.”tanyaku heran. Ferry tertawa lalu mengacak-acak rambutku.
“Ya, emang dia cantik. Siapa sih cowok yang ga seneng liat cewek cantik? Tapi kan cantik itu ga selamanya, Mey. Kalau dia udah tua? Cantiknya pasti ilang. Kecuali kalau dia juga punya inner beauty. Inner itu kan kecantikan yang abadi.”jelas Ferry panjang lebar. Aku manggut-manggut mengerti. Ferry benar. Cantik dari luar suatu saat pasti akan pudar.
***
Aku melangkahkan kakiku di lorong kampus. Tak lama kemudian terdengar suara bisikan dari orang-orang. Sesuatu tentang Sonia. Ada apa ini? Aku segera mencari Ferry untuk cari tahu. Baru saja aku ingin mencari Ferry, aku bertemu Sonia. Dan ternyata – aku melihat Sonia yang beda dari biasanya. Ya, wajahnya memerah dan jerawatan. Rusak. Baru saja aku ingin bertanya apa yang terjadi dengannya, dia sudah berlari menghindariku. Akhirnya aku bertemu Ferry.
“Fer, Sonia kenapa jadi – maksud gue muka dia?”aku bingung bagaimana mau menanyakannya.
“Dia alergi make up. Make up nya ga cocok sama kulitnya. Jadi kayak gitu deh.”jawab Ferry enteng. Aku tertegun tak percaya. Sonia yang cantik dan dipuja-puja lelaki. Kini jadi seperti – apa yang tak pernah aku bayangkan.
“Gue bilang juga apa. Cantik dari luar bisa abis. Tapi cantik dari dalem? Ga akan, Mey. Makanya lo tuh beruntung. Lo mungkin ga secantik Sonia. Tapi inner lu jauh lebih baik daripada Sonia.”puji Ferry. Aku menunduk malu. Pasti pipiku sudah berubah merah padam. Tapi Ferry benar. Aku merasa beruntung sekali karena tidak terlalu cantik dan berlebihan dalam memoles tubuh. Cukup aku yang apa adanya. Meyra yang supel, ramah dan sederhana.
0 comments:
Posting Komentar