Rabu, 15 September 2010 | By: nadanaad

sketch of love #PART 1 - sketch of A's Love

“Gue duluan ya, mbak.”ujar Gina, teman sekantorku. Aku menoleh lalu tersenyum dan mengangguk. Dia pun melenggang pergi. Aku melihat ke sekitar. Kosong. Orang orang pasti sudah pulang semua, pikirku. Aku menatap tumpukan sketsaku untuk design majalah bulan depan. Kuhela nafas panjang dan kemudian berjalan menuruni tangga menuju pantry. Sesampainya di pantry, aku membuat secangkir kopi untuk menemaniku lembur malam ini.

“Adel? Kok masih ada di sini?”tanya seseorang dari belakangku. Aku menoleh. Andre.

“Ah ndre. Gue kira siapa. Iya nih gue harus lembur malem ini. Besok harus setor design majalah bulan depan.”jawabku. aku menatap Andre lama. Andre adalah cowok yang kusuka.

“Oh, sama dong ya. Gue harus ngedit tulisan dulu nih.”ujarnya. Aku tersenyum lalu duduk di bangku pantry. Andre pun membuat secangkir kopi, sama sepertiku. Lalu dia duduk di sebelahku.

“Ndre, gue balik duluan ya harus nyelesain secepetnya nih.”ujarku pamit ke Andre.

“Oh iya. Ati-ati ya, Del. Di kantor kan kalau malem suka ada yang muncul.”goda Andre.

“Apa sih, Ndre. Ga lucu deh.”protesku.

“Bercanda.”ujarnya disertai cengiran yang selalu membuat orang ingin menimpuknya kalau melihat cengirannya itu. Aku pun bergegas kembali ke meja kerjaku. Dan mulai mengerjakan design untuk halaman majalahku lagi.

* * *

Aku menguap. Lelah. Itu yang kurasakan sekarang. Aku melirik jam tanganku. Sudah jam 12 malam. Aku harus pulang sekarang. Aku merapikan kertas-kertas designku dan memasukkannya ke dalam map. Kuraih tasku dan langsung berjalan ke bawah untuk pulang. Di lobby lagi-lagi aku bertemu orang yang tadi kutemui, Andre.

“Belum pulang, Ndre?”tanyaku.

“Belum. Gue nungguin lo kali, Del. Pulang bareng yuk.”ajaknya. Aku melongo. Ga percaya. Baru kali ini Andre menawariku pulang bareng.

“Ah ga usah deh. Gue naik taksi aja.”tolakku. Gengsi.

“Eh kalau lo naik taksi malem-malem gini bahaya, Del. Udah bareng gue aja.”paksanya.

“Hem, okelah.”ujarku akhirnya. Dia tersenyum senang lalu memberikan helmnya padaku. Kami pun pulang bersama. Sampai akhirnya kami sampai di kos-an ku. Aku mengucapkan terimakasih kepada Andre lalu masuk ke dalam kos-an ku. Di kamar, Adelina – teman sekamarku plus kembaranku – sudah tidur pulas di kasur. Aku meletakkan tasku di meja lalu melepas sepatuku dan bergegas tidur.

* * *

Aku masuk ke ruangan kantorku. Masih sepi. Kulirik jam dinding, masih jam 6 pagi. Ah kepagian, pikirku. Aku mengeluarkan kertas designku dari map lalu melanjutkan pekerjaanku. Hingga seseorang datang menghampiri mejaku lalu meletakkan sesuatu.

“Sarapan dulu, Del. Gue bawain nasi uduk tuh.”ujar Andre. Aku tersenyum.

“Thanks ya, dut.”ujarku. aku merapikan kertasku lalu sarapan bersama Andre. Tiba-tiba Adelina datang.

“Adeeeeeeeeeel. Cie kiw ama Andre nih sarapan berdua. Unyuuuu co cwit.”goda Adelina. Mukaku langsung bersemu merah.

“Apa sih lo twinny. Sarapan doang juga.”bantahku.

“Eh, Lina. Pagi.”sapa Andre.

“Pagi, Ndre. Ah menyangkal dirimu ,Del. Ngaku deh. Kiw kiw.”goda Adelina sambil mencubit lenganku. Aku membalas.

“Eh ini si kembar berantem aja. Udah eh.”ujar Andre. Kami pun berhenti lalu tertawa bersama.

“Udah sarapan belom lo?”tanyaku kepada kembaranku.

“Udah, tadi di bawah sama Galang huehehehe.”jawabnya disertai cengiran.

“Alah, ini orang pacaran mulu. Gue bilangin ke nyokap loh.”ancamku.

“Ih ngaduan dasar lo. Udah ah, gue ganggu kayaknya. Byeeeee Adel, Andre.”ujar Adelina sembari meninggalkanku dan Andre berdua. Kami pun akhirnya selesai sarapan.

“Ini design lo, Del?”tanya Andre. Aku mengangguk.

“Gimana menurut lo?”tanyaku.

“Kurang tebel nih arsiran nya Del. Harusnya pake pen yang lebih tebel jadi keliatan.”ujar Andre mengkoreksi designku. Aku mengangguk mengerti.

“Oke, Pak Editor. Nanti saya perbaiki. Hahaha.”ujarku. Andre tersenyum lalu mengacak rambutku lembut.

“Udah ah, kerja sana lo. Gue ke ruangan gue ya. Byeeeeeeeeee.”ujar Andre sembari melenggang pergi. Aku tersenyum. Ah, baiknya dia, pikirku.

Jam menunjukkan pukul 10.00. waktunya aku mempresentasikan designku kepada bosku. Kuhela nafas panjang. Tanganku dingin mendadak. Ayo harus bisa Del, pikirku. Andre menghampiriku.

“Ayo optimis, Del. Insya Allah diterima ama si bos.”ujarnya menyemangatiku. Aku mengangguk. Aku pun akhirnya masuk ke ruang rapat. Di sana banyak sekali atasan majalah Creteen. Aku menelan ludah dan mulai mempresentasikan hasil kerjaku

* * *

Aku keluar dari ruang rapat dengan wajah berseri-seri. Saat aku memasuki ruang kerjaku, Adelina dan Andre menghampiriku.

“Gimana, Del? Sukses?”tanya Adelina.

“Biar gue tebak. Dari raut mukanya kayak nya sukses nih. Iya kan?”tebak Andre. Aku tersenyum.

“Tau aja lo, Ndre.”ujarku sembari memukul lengan Andre pelan.

“Wes hahaha akhirnyaaaaaaa.” Adelina memelukku.

“Iya nih twinny. Ga sia-sia gue lembur kemarin.”

“Iya lah ga sia-sia. Orang lemburnya ditemenin Andre hahaha.”goda Adelina.

“Ih. Comel lu mah.”

“Udah udah. Makan siang yuk Del. Gue traktir deh.”ajak Andre.

“Ayoooooooo!”ujarku dan Adelina bersamaan. Andre hanya menggelengkan kepala.Aku dan Adelina hanya nyengir secara bersamaan. Kami pun berjalan keluar kantor untuk mencari makan siang.

* * *

Aku merapikan barang-barangku dari meja kerjaku. Akhirnya bisa pulang cepat juga, pikirku. Aku berjalan keluar kantor hingga sebuah suara menghentikan langkahku.

“Adel!”panggil Galang, teman dekatku di kantor juga sahabat Andre.

“Kenapa Lang?”

“Pulang?”dia balik bertanya padaku. Aku mengangguk.”Bareng yuk. Sekalian gue pingin denger cerita lo nih. Hehehe.”lanjutnya.

“Cerita gue? Cerita apa?”

“Udah, entar aja gue jelasin. Ayo ikut!”ujar Galang sambil menarik lenganku menuju motornya. Kami pun pulang bersama. Sesampainya di kos-an ku, aku mempersilahkan Galang duduk di depan kamar kos ku.

“Minum apa, Lang? Teh? Kopi? Sirop?”

“Air putih aja deh, Del.”ujarnya. aku mengangguk mengerti lalu mengambil segelas air yang Galang minta.

“Nih.”

“Thankyou geulis.”ujarnya sembari nyengir. Aku duduk di sebelah Galang. Kami pun saling diam, ga tau harus membicarakan apa.

“Ah iya, gue denger kemaren lu lembur bareng Andre ya?”tanya Galang langsung to the point.

“Ah, kebetulan doang Lang.”bantahku.

“Bukan kebetulan kali Del.”ujar Galang. Seulas senyuman tersungging dari bibirnya.

“Hah? Bukan kebetulan gimana?”tanyaku tak mengerti.

“Iya, itu tuh Andre sengaja nungguin lo. Dia pengen pulang bareng sama lo.”jelas Galang. Deg. Aku langsung mematung. Entah harus senang, entah harus khawatir.

“Oh hahahaha. Kok bisa ya?”

“Ya bisa lah. Kalau menurut gue, dia itu suka ama lo.”ujar Galang. Deg. Sekali lagi jantungku berdetak lebih kencang dan cepat.

“Mana mungkin. Impossible, you know?”bantahku sembari mencoba menenangkan diri.

“Yah, kita liat aja nanti. 3 hari lagi kan bakal ada acara nginep dari kantor. Kita liat, Andre pasti nembak lo.”ujar Galang.

“Ah Lang, jangan ngebuat gue GR gini deh. Lo kan tau gue suka ama dia udah setaun Lang. Jangan buat gue GR ah.”ujarku sembari terus berusaha menenangkan diri.

“Ah yaudahlah liat aja nanti.”kata Galang. Aku menghela nafas panjang.”Gue pulang duluan ya, mau jemput kembaran lo.”

“Dasar lo, pacaran wae. Emang si Lina lagi dimana?”tanyaku.

“Itu dia lagi hunting foto buat majalah. Dia kan fotografer kesayangan si Bos jadi ya sibuk deh. Sama kayak lo.”ujarnya. aku hanya meng-oh kan saja. Galang pamit. Aku melirik ponselku. Hari ini itu hari sabtu. Berarti nanti itu malam minggu. Ah, malam minggu pasti aku mendekam di rumah sendiri, keluhku dalam hati.

* * *

“Del, gue pergi dulu ya. Galang udah jemput tuh.”ijin Adelina. Aku yang tadi sedang asyik membaca novel baruku, langsung menandai halaman yang terakhir kubaca.

“Mau kemana?”

“Kemana aja boleeeeeeh. Hahahaha. Kan malam minggu Del. Wajar atuh.”ujarnya. aku mengangguk mencoba memahaminya. Adelina kan udah punya pacar jadi wajar, ga kayak gue, ujarku dalam hati. Akhirnya Adelina pun pergi bersama Galang. Aku menghembuskan nafas panjang. Sendiri lagi, keluhku. Tiba-tiba ponselku berdering. Andre.

“Ya, kenapa Ndre?”

“Del, sat-night mau kemana?”tanyanya langsung.

“Ga kemana-mana kayaknya. Biasa, akibat ngejomblo jadi malming sendiri.”keluhku.

“Ye dia curhat. Hahaha.”godanya.

“Biarin dong. Suka-suka wo. Lo sendiri kemana?”aku balik bertanya. Dia diam sejenak. Lalu terkekeh pelan. Aku mengernyitkan dahi, heran.

“Kok ketawa?”tanyaku.

“Gue mau jemput temen gue nih. Yang sekamar ama Adelina.”jawabnya enteng. Aku mematung. Kaget. Shock.

“Hah? Maksud lo?”tanyaku masih tak mengerti.

“Ye belagak bloon deh elu mah. Gue mau jemput lo bodoh.”ujarnya.

“Jangan pake bodoh napa. Kan gue ga tau. Boong ya lo?”tanyaku masih tak percaya.

“Ye serius. Ini gue udah ada di depan kamar lo. Coba aja buka pintu nya.”ujar Andre. Jantungku mendadak langsung dag dig dug ga keruan. Aku melihat rupaku di cermin. Menyisir rambutku agar terlihat sedikit rapi. Lalu aku segera membuka pintu kamarku. Dan benar saja. Andre sudah berdiri gagah di depan pintu dengan kaos warna putih dan celana ¾ nya. Aku mematung seketika. Terpesona.

“Hey? Bengong.”ujar Andre.

“Ah siapa yang bengong. Cuma kaget. Gue kira lo boong.”ujarku ngeles.

“Yuk.”

“Hah? Kemana?”tanyaku.

“Makan. Laper nih gue. Udah ayooooooooooooooooo.”paksa Andre yang langsung menarik tanganku.

“Eh gue ganti baju dulu.”pintaku.

“Ga usah. Gini juga udah cantik kok.”ujarnya. Deg. Tadi dia bilang apa? Cantik? Aaaaaaaah, GR dah gue, ujarku dalam hati. Aku akhirnya pasrah dibawa oleh Andre entah kemana.

“Dasar lo sama aja sama sahabat lo. Tukang maksa orang.”protesku.

“Biarin we hahaha.”ujar Andre. Kami pun sampai di sebuah angkringan. Aku dan Andre ngobrol banyak sekali hingga akhirnya aku tambah GR. Aku tambah mengira yang dikatakan Denis itu benar. Yah, mudah-mudahan.

* * *

Sudah 3 hari ini aku selalu diajak pergi oleh Andre. Berdua. Kami semakin sering terlihat berdua. Banyak rekan kerja kami bilang kalau kami akan jadian sebentar lagi. Tapi aku sendiri tidak yakin akan hal itu. Hem entahlah. Kini hari sudah malam. Andre baru saja pulang setelah mengantarku. Aku berjalan menuju kamar. Sudah ada Adelina di sana.

“Udah jalan-jalannya Del?”tanya Adelina. Aku mengangguk. Aku menaruh tas, membuka kunci rambutku lalu duduk di sebelah Adelina.

“Lin, gue mau curhat.”ujarku.

“Curhat lah twinny. What happened neng?”tanyanya.

“Lo tau kan gue suka ama Andre? Suka banget banget. Udah setaun gue suka ama dia. Gue selalu pengen deket ama dia. Tapi selalu susah. Nah sekarang gue malah deket wae ama dia. Dia kayak ngasih gue harepan Lin.”jelasku.

“Terus? What’s wrong gitu Del? Bukannya malah bagus?”tanya Adelina tak mengerti.

“Iya mungkin di satu sisi gue seneng Lin. Tapi di sisi lain gue ngerasa takut. Takut kalau gue Cuma ke GR an. Takut entar gue akhirnya kecewa.”ujarku. aku menghela nafas panjang. Ingin sekali menangis. Tapi aku tahan.

“Ya itu kan resiko nya suka ama orang? Harus siap apapun keputusan akhirnya. Lo ga boleh takut duluan. Optimis. Kalaupun entar mungkin semua itu ga kejadian, anggap aja itu yang terbaik. Allah’s always give you the best thing, whatever it is. Right?”ujar Adelina panjang lebar. Aku mengangguk setuju. Aku memeluk kembaranku erat.

“Thanks ya Twinny. Lo emang paling bisa ngertiin gue.”ujarku.

“Iya sama sama. Udah yuk tidur. Gue ngantuk.”ajaknya. aku mengangguk setuju. Ah besok acara menginap dari kantor. Itu mengingatkanku akan kata-kata Denis. Aku menghela nafas panjang dan mencoba untuk tidur dan tidak memikirkan hal tersebut.

* * *

Pagi-pagi sekali aku dan Adelina telah siap dengan bawaan kami. Hari ini kantor kami mengadakan acara menginap bersama selama 3 hari di Bali. Aku senangnya bukan main. Akhirnya bisa refreshing juga, pikirku. Aku pun berangkat ke bandara. Kami semua janjian di sana. Sesampainya di bandara, aku dan Adelina mencari-cari rombongan kantorku. Setelah menemukannya, kami pun bergabung.

“Hey, Del.”sapa Andre.

“Eh Ndre, Hai.”balasku.

“Adelia, ini tiket mu.”ujar Hanum, sekertaris di kantor kami. Aku melihat ke tiket pesawat yang kugenggam. Nomor 17.

“Nomor seet lo berapa Del?”tanya Adelina.

“17, Lin. Lo?”tanyaku.

“Gue nomor 9. Bareng sama Galang.”jawabnya dengan senyum sumringah. Ah dasar mereka, pikirku.

“Lo nomor 17 Del?”tanya Andre. Aku mengangguk.“Gue nomor 18. Berarti kita sebelahan?”lanjutnya. Deg. Aku mematung lagi. Gawat. Salting yang ada ini selama perjalanan, keluhku.

“Cieeee kiw. Jodoh yeuh jodoh.”goda Galang.

“Iya nih jodoooooh yeuh kiwkiw.”Adelina ikutan nimbrung. Pipiku langsung bersemu merah. Aku tak bisa menahan malu.

“Gue ke toilet dulu ya.”ujarku sambil melangkahkan kaki ke toilet. Di Smoking Area, aku langsung mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya. Kuhirup dalam-dalam sampai bisa kurasakan asapnya memasuki relung paru-paruku. Lalu kuhembuskan perlahan. Sedang asyiknya aku merokok tiba-tiba sebuah tangan membuang puntung rokokku. Andre.

“Apa-apaan sih Ndre?”bentakku kesal.

“Lo tuh yang apa-apaan! Pake ngerokok segala! Lo itu cewek Del! Sadar ga sih?!”Andre balas membentakku.

“Terus kenapa kalau gue cewek? Lo itu ga adil Ndre! Jadi karena gue cewek, gue ga boleh ngerokok sedangkan lo boleh? BASI!”aku membentaknya lebih keras. Aku kesal. Akhirnya kuputuskan pergi meninggalkan Andre. Hingga tangan Andre menahan langkahku.

“APA?”tanyaku ketus.

“Gue ga bermaksud ga adil atau apa Del. Gue..”

“GUE APA?”tanyaku lagi.

“Gue cuma ga mau lo kenapa-kenapa. Gue ga mau lo jadi sakit atau apalah itu gara-gara ngerokok.”ujar Andre yang langsung melembut. Aku menghela nafas panjang. Dia peduli? Ah mana mungkin, pikirku.

“Oke, gue juga minta maaf udah kasar. Kalau emang lo ga suka, ya udah gue berusaha berenti dari sekarang. DEMI LO.”ujarku dengan menekankan kata ‘DEMI LO’. Andre tersenyum senang lalu memelukku. Aku shock, salting – entahlah harus gimana lagi.

“Makasih ya Del. Gue ga mau lo kenapa-kenapa. Jangan ngerokok lagi ya?”tanyanya. aku mengangguk. Iya, gue bakal berenti demi lo Ndre, demi lo yang gue sayang, ujarku dalam hati.

“Udah yuk. Udah mau berangkat nih entar kita ditinggal lagi.”ajakku. Andre mengangguk. Kami pun kembali ke rombongan kami.

* * *

Akhirnya kami sampai di penginapan kami pukul 17.00 WITA. Aku langsung menuju kamarku bersama Adelina tentunya. Baru saja kami sampai di kamar, Andre menghampiriku.

“Del, bisa ngomong sebentar?”tanya Andre. Aku mengangguk.

“Bentar ya, Lin.”ujarku ke Adelina. Dia mengangguk mengerti. Kami – aku dan Andre – pun berjalan menuju taman. Andre menyuruhku duduk.

“Kenapa Ndre?”tanyaku langsung.

“Hm, Del, gue tau lo suka ama gue. Galang udah cerita semuanya sama gue.”ujar Andre. Deg. Jantungku berdegup lebih cepat dan kencang. Khawatir. Itu yang menyelimuti hatiku sekarang. “Gue sebenernya udah suka ama cewek lain, Del. Hem, bukan elo.”ujarnya. aku langsung terdiam. Mematung. Tak bergerak. Bahkan bernafaspun aku sulit. Sesak. Sakit. Kecewa. Semua bercampur menjadi satu.

“Sa-ma sia-pa?”tanyaku terbata-bata menahan tangis.

“Sama Tari, temen SMA gue. Sorry ya Del.”ujarnya penuh penyesalan. Aku menundukkan kepalaku. Air mata pun menetes melewati kedua pipiku perlahan. “Jangan nangis, Del. Please, gue mohon. Gue makin ngerasa bersalah kalau lo nangis gini. Gue yakin lo bisa lupain gue. Gue yakin lo bisa Del.”lanjut Andre. Aku mendongak.

“Lo gampang ngomongnya Ndre. Lo ga tau rasanya gimana. Susah Ndre. Setaun gue suka ama lo. Ternyata endingnya kayak gini. Tau gitu gue harusnya jangan ke GR an. Bodoh banget gue.”isakku di depan Andre. Andre menatapku miris.

“Maafin gue. Gue juga susah lupain cewek itu Del. Lo pasti bisa nemuin cowok yang lebih baik dari gue. Gue yakin lo bisa bangkit lagi. Adelia yang gue kenal itu Adelia yang kuat,”ujarnya. aku menghapus air mataku lalu tersenyum.

“Makasih ya Ndre.”ujarku lalu melenggang pergi meninggalkan Andre sendiri. Ini hari pertamaku di Bali tapi aku malah mendapat kabar seperti ini. Ah sial. Hatiku sakit. Sesak. Aku sulit bernafas. Airmata menetes deras. Ternyata A’s love gue berakhir dengan sad ending ya. Sepertinya gue harus berusaha lebih keras untuk bangkit dan melupakan dia. Ya gue pasti bisa.

* * *

0 comments:

Posting Komentar