Andre Project
"Mau pesan apa, Mbak?"Tanya seorang pelayan padaku.
"Lemon squash aja mbak."ujarku. pelayan tersebut mengangguk mengertilalu meninggalkan mejaku. Tanpa kusadari, seseorang mengamatiku dari kejauhan.Dia, Fauzi. Sahabat lamaku.
"Del." Sapanya. Aku menengok lalu senyumku pun mengembang.
"Oooooooji!"aku menjerit girang lalu memeluk sahabatku erat.
"Hey sloooooooooow. Hahahaha."ujarnya.
"Kangen anjir lu kemana ajaaa?"tanyaku. dia terkekeh pelan.
"I'm here heeeeeeey Adelia Noviana!Hahahaha."jawab Fauzi sekenanya. Lalu aku mengajaknya duduk.
"Gimana nih kabarnya Pak Dokter?"tanyaku.
"Ya gini gini aja. Ada orang sakit, sembuhin. Operasi, perawatan.Gitulah hahahaha. Lo?"dia balik bertanya.
"Gue? Gue ya gitu aja sama juga ama lo. Gambar design, setor ke bos amaeditor. Hahahaha. Cewek siapa nih sekarang?"tanyaku iseng.
"Masih ama Dewi kok hahahaha."ujarnya.
"Wes aweeeeeeeeeet nya."ujarku ikut senang.
"Lo sendiri gimana? Masih ama Genta?"tanyanya. aku diam.
"Engga gue udah putus setaun yang lalu."jawabku dengan suara pelan.Fauzi diam tak berbicara satu kata pun. "Udahlah. Masa lalu juga."lanjutkumencoba mencairkan suasana. Fauzi tersenyum.
"Hahahaha. Gebetan siapa sekarang?"Tanya Fauzi lagi.
"Gue baru patah hati ji."jawabku singkat.
"Hem kayaknya dari tadi gue salah ngomong mulu. Sorry girl."ujarnyamemohon maaf dariku. Aku tersenyum pada Fauzi.
"Ga apa-apa kok ji. Slow ih. Lo mah kayak ama siapa aja."ujarku. diatersenyum juga padaku.
"Iya ya. Yang ada di depan gue ini kan sahabat gue dari SMP. Yakaaaaaaan Delty? Hahahahaha."ujar Fauzi sambil mengacak-acak rambutku lembut.Aku dan dia tertawa bersama. Kami pun banyak bercerita malam itu.
"Udah malem. Pulang yuk Ji."ajakku.
"Oke, gue anter ya."tawar Fauzi. Aku mengangguk. Kami pun pulangmenggunakan mobil innova milik Fauzi. Sampai akhirnya kami pun sampai.
"Oke makasih ya Oji. Ah iya, mau nomor hp lo dong. Lo ampe kapan disini?"tanyaku sambil menyerahkan ponselku. Fauzi mengetik nomer hp nya diponselku.
"Gue pindah ke sini kali. Deket kok 4 blok dari kosan lo."ujar Fauzi.
"Wah asik hahahaha."ujarku senang.
"Yaudah, gue pulang ya. Tidur lo. Anak kecil jangan kemalemantidurnya."ujar Fauzi seraya naik ke dalam mobilnya. "Bye. Night ya."pamit Fauzisambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku membalasnya.
"Byeee!"balasku. mobil Fauzi pun menjauh dari tempatku berdiri lalumenghilang di tikungan, aku masuk ke dalam kosanku. Di kamar, Adelina sudahmenunggu.
"Darimana aja?"tanyanya sinis.
"Dari jalan-jalan."jawabku sambil meletakkan tas selempangku di meja.
"Kenapa malem banget? Lo nyadar ga? Semenjak kejadian di Bali lo jadianeh. Jadi diem. Jadi suka pergi sendiri ke tempat entah itu dimana ampemalem."kata Adelina panjang lebar.
"Lo kenapa sih? Lo jadi sama aja kayak nyokap tau ga! Lo itu adek gue!Gausah ngatur hidup gue. Ga usah ngatur-ngatur gue mau kemana.Ngerti?"bentakku. adelina terdiam.
"Gue bukannya mau belagak kayak mama! Gue Cuma khawatir ama kakak gue!Ngerti ga sih lo?"Adelina balas membentakku. "Gue kayak gini, karena gue tau.Mama ga akan kayak gini. Mama ga akan ngekhawatirin kita."lanjut Adelina sambilmenundukkan kepalanya. Giliran aku yang terdiam sekarang. Mama memang tidak pernah memedulikan kami berdua. Dia hanya sibuk dengan karir dan pacar barunya.Mama dan papa bercerai saat aku masih SMP.
"Sorry, Lin."ujarku.
"No Prob, Del. Udah sekarang lo tidur aja gih."suruh Adelina.
"Iya, Lin. Eh gue tadi ketemu lagi ama Fauzi."ujarku.
"Wah, kok bisa?"Tanyanya.
"Iya tadi ketemu di café. Hehehe. Kangen sia gue."ujarku.
"Samaaaaaaa. Hahahaha. Udah ah tidur. Besok masuk kantor ge."ujarAdelina. Aku mengangguk dan langsung bergegas tidur.
* * *
Hari ini aku akan janji ketemu dengan Fauzi sepulang dari kantor. Makadari itu aku sangat semangat saat tau sudah waktunyaaku pulang. Saat aku melangkah menuruni lift, seseorang menahanku. Andre.
"Tunggu, Del."cegah Andre. Aku berusaha tak menatap mata Andre dan terusberjalan menuju lift. Andre mengikutiku.
"Apa sih, Ndre? Lo itu ngapain masih ngikutin gue?"tanyaku saat di dalamlift. Kesal.
"Lo mau kemana, Del?"tanyanya sok perhatian.
"Apa peduli lo? Gue mau kemana terserah gue."jawabku sinis. Andremenghela nafas panjang. Kami pun saling terdiam. Akhirnya pintu lift terbuka.Aku langsung berjalan keluar menghindar dari Andre. Tapi dia mengejarku.
"Del. Gue kangen lo."ungkapnya dari belakangku. Aku mematung. Kangen?Setelah apa yang dia katakana di Bali, dia bilang dia kangen? Bohong, fikirku.
"Ga usah ngasih gue harepan lagi, ndre."ujarku tegas lalu pergi meninggalkanAndre sendiri. Andre hanya menatapku dari belakang lalu berbalik dan pergi. Akumenghela nafas lega. Sejenak aku sempat berharap lagi. Tapi hati kecilkumelarangku berharap lagi karena hati kecilku tau aku hanya akan mendapat sakitbila aku berharap kepadanya. Ah sudahlaaaah, kataku dalam hati. Aku punmemanggil taksi dan pergi ke tempatFauzi.
* * *
Aku dan Fauzi janjian di sebuah coffee shop kecil tempatku biasa bertemudengan Fauzi dulu. Saat aku sampai di sana, Fauzi sudah duduk manis menungguku.Tanpa pikir panjang aku menyapa Fauzi.
"Ji."
"Eh, Adel."
"Udah lama?"tanyaku dengan rasa tidak enak.
"Engga kok. Baru nunggu sejam."sindir Fauzi. Aku tertawa lalu memukullengan Fauzi pelan.
"Ah rese lu. Sorry boy, I'm late. When I walk out from my office, Andreask me something."jelasku.
"What? Andre? Andre who was hurt you?"Tanya Fauzi.
"Yeah, you're right."jawabku.
"What did he say?"Tanya Fauzi tak sabar.
"Calm down, Ji. He said that he miss me."jawabku singkat, padat danjelas. Fauzi melotot. Terlihat dari raut mukanya. Dia kaget. Shock. Ga percaya.
"WHAT? ARE YOU SERIOUS?"Tanya Fauzi ga percaya. Aku hanya mengangguk.
"Bentar ya, mesen dulu. Mbak."aku memanggil waitress yang tidak jauhdari tempat kami duduk. Aku segera memesan minuman kesukaanku. Cappuccino OreoMilk Shake.
"Jadi bener?"Tanya Fauzi lagi.
"Iya sakali pan gue teh ngomong ya Allah Oji."ujarku.
"Gue ga nyangka aja gitu. Ah udah lah ga usah dibahas lagi entar lokepikiran lagi."ujar Fauzi. Aku mengangguk setuju. Aku merogoh kantong blazerkulalu mengeluarkan sebungkus rokok Black Menthol. Lalu kurogoh lagi sakublazerku yang satu lagi. Kukeluarkan korek dengan bentuk bungkus rokok.
"Mau?"tawarku.
"No thanks. I'm not smoker."tolak Fauzi. Aku mengangguk mengerti.
"Anak baik dasar."ejekku. dia hanya tersenyum miris. Aku menyelipkansebatang rokok di antara dua bibir mungilku. Kunyalakan korek lalu kubakarujung rokokku. Kuhisap dalam-dalam hingga masuk ke tenggorokan lalu keparu-paruku. Hah rasanya jadi lebih lega, fikirku. Fauzi menatapku tajam.
"Gue baru inget, lo kan udah janji ama gue ga akan ngerokok lagi mulailulus SMA. Ya kan? Are you forget?"tanyanya. aku terdiam. Mampus gue, sumpahkudalam hati.
"Gueeeeee.."ujarku mencoba memberi alasan tapi tidak tau harus bicaraapa.
"Gue apa?"
"Gue kan udah lama ga ketemu ama lo. Jadi ya gue kira lo udahlupa."ujarku memberi alasan. Fauzi hanya menggeleng-geleng kepala.
"Lo kira gue segampang itu lupain janji sahabat terbaik gue?"TanyaFauzi. Aku terdiam ga tau lagi harus ngomong apa.
"Maaf deeeeeeeeeh."ujarku akhirnya.
"Ya, ga apa-apa deh. Gue maafin."ujar Fauzi. Aku tersenyum senang. Lalumemeluk Fauzi erat.
"Thaaaaaaaaankyoooooou Ojikuuuuuu."
"Udah udah. Diliatin orang malu tau."ujar Fauzi gahar. Aku nyengir danlangsung melepas pelukanku. Dia mencubit pipiku. Aku mengkelikitik perutnya.Kami pun tertawa bersama. Hangat, lepas, bebas dan tanpa beban. Sudah lama akutidak merasa seperti ini. Ya, karena selama ini hanya Fauzi yang bisa membuatkumerasa seperti sekarang ini.
"Ji, cariin gue cowok dong. Kenalin gitu ke gue. Temen lo kek."pintaku.
"What for?"Tanya Fauzi heran.
"Buat Andre Project. Ya ya ya ya?"pintaku sekali lagi.
"Andre Project? Apaan tuh? Ada-ada aja ge lu mah."Fauzi malah bertanya.
"Andre Project itu project gue buat lupain Andre, buat hapus rasa gue keAndre gitcuuuu."jelasku.
"Oooooooh. Oke entar gue cariin."jawab Fauzi akhirnya.
"Yeeeeey! Thankyooou Oji. You're my bestest friend I've ever had."ujarkupenuh arti.
"Ah lebay lo mah."ujar Fauzi. Aku terkekeh. Kami pun banyak berceritalagi. Hingga waktu telah menunjukkanpukul 7 malam. Aku pun pulang diantar oleh Fauzi.
* * *
Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Adelina sudah tertidur lelap dikasurnya. Aku pun sudah bersiap untuk tidur sebelum ponselku bergetar. Telefon.Fauzi. Kutekan tombol Answer.
"Halo?"
"Deeeeel, gue putuuuuuuuuus."ujar Fauzi parau.
"Hah? Putus? Kok bisaaaaa?"tanyaku ga percaya.
"Ga taaaau gue juga. Tiba-tiba Dewi minta putus. Katanya dia maudijodohin gitu. Gue ga ku at Deeeel."isak Fauzi. Aku shock. Baru kali ini akumendengar Fauzi menangis se-histeris ini.
"Jangan nangis ih Oji. Jadi cowok ga boleh cengeng ah. Ayosemangat!"ujarku menyemangati.
"Ga bisaaaa. Lo tau kan gue udah 3 tahun jadian ama dia. Gue udah sayangbanget ama dia. Banget banget malah."jelas Fauzi sambil terus terisak.
"Iya gue ngerti. Tapi mau gimana lagi? Ini udah jadi keputusan nya Dewi.Lo ga bisa ganggu gugat atau ngelarang. Itu hak dia."ujarku. Fauzi terusterisak.
"Udah ih jangan nangis lagi. Cukup gue sekali denger lo nangis pas guekoma pas SMA. Gue ga mau denger lagi ih."pintaku. akhirnya Fauzi berhenti.
"Iya, gue coba tenang deh. Del besok kan libur, ke dufan yuk."ajakFauzi.
"Ayooo. Oke besok jemput aja ya di kosan gue."ujarku.
"Oke, night Adeel."
"Night Oji."ujarku mengakhiri percakapan aku dan Oji di ponsel malamitu. Yes, besok ke dufan. Akhirnya proses Andre Project pun dimulai!
* * *
Aku dan Fauzi sudah sampai dufan. Masih sepi di sana. Tentu saja, inimasih jam 10 pagi. Dasar Oji gila, fikirku. Aku menunggu loket dibuka. Saatdibuka, aku dan Fauzi langsung membeli tiket dan masuk ke dalam Dufan. Kaminaik semua wahana. Arung Jeram, Tornado, Hysteria, Niagara, Kora-kora,Halilintar, Kicir-kicir sampai rumah kaca. Hingga tak terasa hari sudah senja.Kami pun keluar dufan dan berlari ke arah pantai untuk menikmati sunset disenja ini. Di temani oleh sahabat terbaikku, hari ini aku benar-benar berhentimemikirkan Andre. Dan sekarang, saatnya sunset pun tiba. Aku duduk di sebelah Fauzi.
"Keren ya. Kalau aja gue bisa liat ini ama Dewi."ujar Fauzi. Aku menoyorkepala Fauzi. Fauzi meringis. "Apa-apaan sih?"
"Lo tuh apa-apaan! Kita di sini niatnya buat ngelupain semua orang yangudah nyakitin kita. Ngapain lo inget lagi? Lagian di sini ad ague Ji. Lo gaseneng liat sunset ama sahabat lo dari SMP? Oh jadi lo lebih seneng ama cewekyang udah nyakitin lo, ninggalin lo daripada ama gue? Oke, cukup tauaja."cerocosku panjang lebar.
"Bukannya gitu, Del. Iya-iya sorry. Gue seneng kok liat sunset ama lo.Kan lo sahabat gue."ujar Fauzi sembari merangkulku dan tersenyum. Aku membalastersenyum. Kami pun pulang dari dufan pukul 8 malam. Hari ini sangatmenyenangkan. Mudah-mudahan dengan keberadaan Fauzi, aku jadi lebih cepatmelupakan Andre. Amin.
* * *
0 comments:
Posting Komentar